habybpalyoga.com – Sistem pencernaan (gastrointestinal) pada spesies domestik mencerminkan tingginya variasi anatomi yang sering dijumpai dalam dunia kedokteran hewan. Meskipun terdapat keragaman struktural yang besar antarspesies, seperti lambung sederhana pada monogastrik dibandingkan lambung berlapis pada ruminansia. Sistem seluruh hewan disatukan oleh satu tujuan fungsional utama: memecah dan mencerna nutrisi yang masuk agar dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh.
Secara garis besar, saluran pencernaan tubular tersusun dari organ-organ yang berurutan dari rongga mulut (oral cavity), esofagus, lambung (stomach), usus halus (small intestine ), usus besar (large intestine), hingga rektum dan anus.
Rongga Mulut (Oral Cavity)
Rongga mulut berfungsi sebagai pintu masuk makanan yang bertugas dalam penangkapan (prehension), pemecahan mekanis (mastikasi), dan inisiasi digesti kimiawi makanan melalui saliva. Secara umum, rongga mulut dilapisi oleh epitel berlapis gepeng (stratified squamous epithelium) yang didukung oleh lamina propria jaringan ikat.
Tingkat keratinisasi (penandukan) pada epitel mulut bervariasi bergantung pada spesies dan pakan:
- Herbivora (ruminansia dan kuda): memiliki tingkat keratinisasi yang tebal dan ekstensif untuk melindungi mukosa dari abrasi serat tumbuhan yang kasar.
- Karnivora (anjing dan kucing): mukosa moralnya relatif kurang menanduk (non-keratinized atau sedikit keratinisasi), kecuali pada area papila lidah tertentu.
Histologi Lidah
Lidah adalah organ berotot kuat yang tersusun dari berkas-berkas otot rangka yang berorientasi ke berbagai arah (longitudinal, transversal, dan oblik), memungkinkan mobilitas tinggi dalam memanipulasi makanan saat mastikasi dan menelan. Di antara berkas otot terdapat jaringan ikat, pembuluh darah, saraf, dan kelenjar saliva inguinal.
Permukaan dorsal lidah memliki spesialisasi mukosa berupa berbagai tipe papila lingual:
- Papila Mekanis (Tanpa Kuncup Kecap):
- Papila Filiformis: papila paling banyak, berukuran kecil ,ramping, dan memiliki lapisan keratin yang tebal dan mengarah ke belakang (caudal). Pada kucing, papila ini sangat menanduk dan membentuk duri-duri tajam yang berfungsi membersihkan bulu (grooming) serta mengikir daging dari tulang.
- Papila Konik: papila berukuran lebih besar dengan dasar tumpul, sering ditemukan pada pangkal lidah ruminansia.
- Papila Sensorik (Mengandung Kuncup Kecap / Taste Buds):
- Papila Fungiformis: berbentuk menyerupai jamur dengan permukaan atas yang membulat dan melebar, tersebar di antara papila filiformis.
- Papila Sirkumvalata (Vallate): papila berukuran besar yang dikelilingi oleh parit melingkar (sulcus). Pada dinding celah parit ini terdapat banyak kuncup kecap, serta muara kelenjar serosa (Ebner’s glands) yang membilas parit dari sisa makanan.
- Papila Foliata: berbentuk lipatan-lipatan paralel seperti daun yang terletak di tepi lateral pangkal lidah (tidak berkembang pada ruminansia).
Kelenjar Saliva (Salivary Glands)
Di dalam submukosa rongga mulut dan di sekitar lidah terdapat kelenjar saliva minor dan mayor yang membantu pelumasan dan pencernaan awal:
- Asinus Serosa: mensekresikan cairan encer berprotein tinggi (enzimatik).
- Asinus Mukosa: mensekresikan musin kental yang kaya glikoprotein untuk melumasi bolus makanan.
- Asinus Campuran: mengandung kombinasi sel serosa dan mukosa, sering kali memperlihatkan struktur bentukan bulan sabit serosa (serous demilune).
Anatomi Histologi Umum Saluran Pencernaan Tubular
Di sebelah distal (atau aboral) dari rongga mulut membentang saluran pencernaan tubular. Organisasi histologis umum dari saluran pencernaan tubular. Mulai dari esofagus hingga rektum, memiliki pola dasar yang sangat mirip. Organ-organ ini memiliki ruang lumen di bagian tengah tempat lewatnya ingesta/digesta.
Dinding organ-organ tubular ini terorganisasi menjadi lapisan-lapisan anatomis yang berbeda secara konsisten. Dari lapisan paling dalam (luminal) hingga lapisan terluar, lapisan-lapisan tersebut adalah:
- Mukosa
- Submukosa
- Tunika Muskularis
- Adventisia / Serosa

Mukosa
Lapisan mukosa mencakup epitel pelapis (lining epithelium), lamina propia, dan muskularis mukosa (muscularis mucosa):
- Epitel Mukosa: melapisi permukaan luminal secara langsung. Tipe sel dan strukturnya bervariasi tergantung segmen (misalnya epitel berlapis gepeng pada esofagus vs. epitel kolumnar selapis pada lambung dan usus).
- Lamina Propia: terletak tepat di bawah epitel mukosa, tersusun atas stroma jaringan ikat longgar yang kaya kolagen (serupa dengan fungsi dermis pada kulit). Lamina propia memuat pembuluh darah kapiler, saluran limfatik, serta sel-sel kekebalan.
- Muskularis Mukosa: lapisan tipis otot polos yang membatasi dan memisahkan lapisan mukosa dari submukosa di bawahnya.
Submukosa
Submukosa tersusun artas stroma jaringan ikat kolagen yang padat (dense collagenous stroma).
- Lapisan ini memuat pembuluh darah berkaliber besar, pembuluh limfatik, dan berkas saraf.
- Pada beberapa organ tertentu (seperti esofagus atau duodenum), submukosa juga dapat memuat kelenjar sekretorik khusus.
Tunika Muskularis
Tunika muskularis (atau muskularis ekterna) bertanggung jawab atas kontraksi mekanis yang menggerakkan dan mencampur isi saluran cerna.
- Pada sebagian besar segmen saluran cerna, tunika muskularis tersusun atas dua lapisan otot polos yang terpisah:
- Lapisan sirkuler dalam (inner circular layer)
- Lapisan longitudinal luar (outer longitudinal layer)
- Pada sediaan sayatan histoloji, berkas-berkas oto polos pada kedua lapisan ini tampak berjalan pada bidang orientasi yang saling tegak lurus (perpendicular planes).
Serosa / Adventisia
- Serosa merupakan lapisan tipis jaringan fibrovaskular ang pada aspek eksternalnya dilapisi oleh selapis sel epitel gepeng khusus yang disebut sel mesotel (mesothelial cells). Lapisan serosa membungkus segmen organ yang menggantung bebas di dalam rongga peritoneal/selom.
- Adventisia disebut apabila lapisan terluar organ hanya berupa jaringan ikat fibrosa yang melekatkan dinding organ ke struktur atau jaringan di sekitarnya tanpa adanya lapisan mesotel (misalnya pada esofagus bagian leher/servikal).
Persarafan Otonom: Pleksus Saraf Enterik
Persarafan otonom saluran gastrointestinal berfungsi melalui dua regio khusus yang mengandung ganglion otonom (sistem saraf enterik):
- Pleksus Submukosa / Pleksus Meissner (Submucosal / Meissner’s plexus): terletak di dalam lapisan submukosa
- Pleksus Mienterikus / Pleksus Auerbach (Myenteric / Auerbach’s plexus): terletak di antara lapisan otot polos sirkuler dalam dan longitudinal luar oada tunika muskularis.
Persarafan otonom ini memungkinkan terjadinya gelombang kontraksi terkoordinasi yang mendorong makanan di sepanjang saluran pencernaan tubular, yang dikenal sebagai gerakan peristaltik.
Secara histologis, pleksus saraf ini tampak sebagai kelompokan terpisah (discrete clusters) yang terdiri dari badan sel saraf/neuron (ganglion) dan berkas-berkas serabut saraf di antara jaringan sekitarnya.
Esofagus
Peran fisiologis utama esofagus adalah mentraspor ingesta secar fisik dari rongga mulut menuju lambung.
Mukosa esofagus tersusun atas:
- Epitel berlapis gepeng (statified squamous epithelium). Tingkat keratinisasi (penandusan) pada epitel ini bervariasi bergantung pada spesies dan diet. Herbivora umumnya memiliki epitel esofagus yang lebih berkeratin dibandingkan karnivora untuk menahan abrasi dari pakan berserat kasar.
- Lamina propia, berupa jeringan ikat penopang.
- Muskularis mukosa (muscularis mucosa), lapisan tipis otot polos yang berorientasi longitudinal.
Variasi Muskulatur Tunika Muskularis Antar Spesies
Komposisi otot pada tunika muskularis esofagus menunjukkan variasi yang nyata antar spesies hewan domestik:
- Anjing dan Ruminansia: memiliki otot rangka (skeletal muscle) seragam di sepanjang seluruh panjang esofagusnya. Keberadaan otot rangka di seluruh panjang esofagus ini penting bagi ruminansia untuk memfasilitasi regurgitasi aktif saat proses memamah biak (rumination).
- Babi dan manusia: terutama mengandung otot rangka pada 1/3 bagian proksimal/oral esofagus, yang kemudian bertransisi menjadi kombinasi otot rangka dan otot polos, dan berakhir sebagai otot polos seragam di bagian distal.
- Kuda dan Kucing: bagian 2/3 kranial didominasi oleh otot rangka, yang kemudian bertransisi menjadi otot polos pada 1/3 bagian kaudal/distal menuju lambung.
Modifikasi Khusus pada Unggas: Tembolok (Crop)
- Unggas (ayam) memiliki kantung keluar khusus atau divertikulum yang terletak di esofagus bagian distal (pada bagian ventral dasar leher), yang disebut tembolok (crop).
- Struktur histologi: anatomi histologis tembolok identik dengan esofagus.
- Fungsi: tembolok berfungsi sebagai tempat menyimpan sementara bagian ingesta, memungkinkan unggas mengonsumsi makanan dalam jumlah besar secara cepat lalu mencernanya secara bertahap kemudian.
Lambung
Fungsi utama lambung mencakup pencernaan mekanis dan kimiawi makanan, penyimpan sementara ingesta, serta mengatur aliran menuju usus halus. Anatomis mikroskopis lambung sangat bervariasi antar spesies, namum secara garis besar terbagi menjadi dua wilayah mukosa utama: mukosa non-kelenjar (nonglandular mucosa) dan mukosa kelenjar (glandular mucosa).
Mukosa Non-Kelenjar
Mukosa non-kelenjar dilapisi oleh epitel berlapis gepeng (stratified squamous epithelium) dan tidak mengandung kelenjar sekretorik.
- Spesies Sederhana / Monogastrik:
- Kuda: memiliki area mukosa non-kelenjar yang jelas di bagian proksimal lambung. Batas tegas berbentuk garis tajam yang memisahkan mukosa non-kelenjar dan mukosa kelenjar pada lambung kuda disebut margo plicantus.
- Babi: memiliki regio non-kelenjar ceci di sekitar Muara esofagus (pars esophageal).
- Karnivora (Anjing & Kucing): tidak memiliki mukosa non-kelenjar, seluruh permukaan interior lambungnya dilapisi oleh mukosa kelenjar.
- Spesies Lambung Kompleks / Ruminansia: Ruminansia memiliki tiga lambung depan (proventriculus) berukuran besar yang entirely dilapisi oleh mukosa non-kelenjar berkeratin untuk fermentasi mikroba:
- Rumen: memiliki tonjolan-tonjolan menyerupai lidah (papila rumen) tanpa muskularis mukosa pada papilanya.
- Retikulum: memiliki lipatan mukosa berbentuk sarang lebah (honey comb) yang memuat berkas otot polos pada puncaknya.
- Omasum: memiliki lipatan mukosa tinggi menyerupai halaman buku (laminae omasi) yang didalamnya memuat lapisan muskularis mukosa dan tunika muskularis.
Mukosa Kelenjar
Mukosa kelenjar dilapisi oleh epitel kolumnar selapis (simple columnar epithelium) yang memuat lekukan-lekukan invaginasi permukaan yang disebut foveola gastrika (gastric pits). Foveola ini berlanjut ke bawah menuju kelenjar tubular (kelenjar lambung).
Regio kelenjar lambung terbagi menjadi tiga zona utama berdasarkan jenis kelenjar dan populasi selnya:
Kelenjar Kardia (Kardia)
Terletak di dekat muara esofagus. Kelenjar ini didominasi oleh sel-sel penghasil mukus encer yang berfungsi melindungi dinding lambung dan melumasi ingesta.
Kelenjar Fundus / Gastrika (Fundus & Korpus)
Merupakan regio fungsional utama pencernaan kimiawi. Kelenjar di daerah ini memiliki populasi sel yang sangat terspesialisasi:
- Sel Mukus Superfisial / Mucous Neck Cells: Mensekresikan mukus alkalis yang kaya bikarbonat untuk melindungi epitel dari asam lambung.
- Sel Parietal (Parietal cell): sel berukuran besar, berbentuk piramida/bulat dengan sitoplasma eosinofilik cerah (merah/merah muda). Bertanggung jawab menghasilkan asam klorida (HCl) dan faktor instrinsik (untuk penyerapan vitamin B12).
- Sel Utama (Chief Cells): berada di bagian dasar (base) kelenjar dengan sitoplasma basofilik (biru/ungu) dan granula zimogen. Mensekresikan pepsinogen (proenzim inaktif yang diaktifkan oleh HCl menjadi pepsin untuk memecahkan protein).
- Sel Enteroendokrin (Enteroendocrine / G-cells): sel-sel khusus menyekresikan hormon regulatorik (seperti gastrin) langsung ke dalam kapiler pembuluh darah.
Kelenjar Pilorus
Terletak di bagian distal sebelum sfingter pilorus. Kelenjar ini didominasi oleh sel-sel mukus dengan faveola gastrika yang tampak jauh lebih dalam dibandingkan regio fundus, serta mengandung banyak sel enteroendokrin penyekret gastrin.
Lapisan Dinding Lambung Lainnya
- Submukosa: mengandung jaringan ikat, pembuluh darah, pembuluh limfatik, fan pleksus Meissner.
- Tunika Muskuläres: berbeda dari organ tubular biasa, tunika muskularis lambung sering memiliki tiga lapisan otot polos (oblik dalam, sirkuler tengah, dan longitudinal luar) untuk memfasilitasi gerakan menggiling makanan.
- Serosa: lapisan terluar berupa epitel selapis gepeng (mesotel) yang melapisi peritoneum.
Lambung Ruminansia (Sapi, Kambing, Domba, Rusa)
Lambung ruminansia terbagi menjadi perut depan non-kelenjar (nonglandular forestomach), meliputi rumen, retikulum, dan omasum) serta lambung kelenjar terminal, yaitu abomasum. Kompartemen-kompartemen khusus pada perut depan ruminansia ini memerlukan pembahasan secara mendalam:
Rumen
Rumen merupakan kompartemen terbesar (berdasarkan volume) dari perut depan ruminansia.
- Fungsi Utama: berperan sebagai ruang penyimpanan untuk memfasilitasi fermentasi mikroba (bakteri dan protozoa) terhadap ingesta.
- Asam Lemak Terbang (Volatile Fatty Acids / VFA): merupakan produk sampingan dari proses fermentasi ini dan langsung diserap melintasi mukosa rumen ke dalam sirkulasi darah, di mana VFA berfungsi sebagai sumber energi yang dapat langsung dimanfaatkan oleh tubuh hewan.
- Selain itu, pencernaan mikrobs terhadap ingesta berserat mengawali proses perombakan nutrisi yang nantinya akan mengalami penguraian lebih lanjut di bagian saluran cerna yang lebih distal (misalnya abomasum).
- Histologi: mukosa rumen bervariasi secara regional, namun membentuk tonjolan-tonjolan papila menyerupai daun (leaf-like papillae). Mukosa non-kelenjar pada rumen tersusun atas epitel berlapis gepeng menanduk (keratinizing stratified squamous epithelium). Rumen tidak memiliki muskularis mukosa (muscularis mucosa).
Retikulum (Reticulum)
Retikulum dan omasum sebagian besar berfungsi untuk memisahkan dan memecah digesta secara mekanis lebih lanjut menyusul penguraian oleh mikroba.
- Morfologi Mukosa: permukaan mukosa retikulum tersusun atas lipatan primer yang panjang dan lipatan sekunder yang lebih pendek, membentuk pola khas yang menyerupai sarang lebah (honeycomb) yang tampak jelas secara makroskopis.
- Histologi: sebagaimana pada rumen, mukosa retikulum dilapisi oleh epitel berlapis gepeng menanduk.
- Muskulari Mukosa: lipatan primer (papila besar) pada retikulum mengandung berkas-berkas otot polos di dalam lamina propria-nya, yang disebut sebagai muskularis mukosa.
Omasum
Permukaan mukosa omasum tersusun atas struktur-struktur tipis, besar, dan menyerupai lembaran daun yang disebut lamina (laminae / lipatan buku).
- Histologi: struktur mikroskopis omasum mirip dengan retikulum, yaitu memiliki muskularis mukosa yang meluas ke dalam lamina.
- Karakteristik Unik: selain muskularis mukosa, tunika muskularis eksterna (muscularis externa) pada omasum juga meluas masuk ke dalam lamina, yang merupakan ciri khas unik bagi kompartemen ini.
- Sama seperti pada rumen dan retikulum, mukosa omasum tersusun atas epitel berlapis gepeng menanduk.
Abomasum
Abomasum merupakan ruang terminal dari lambung ruminansia. Secara fungsional maupun mikroskopis, struktur abomasum adalah analog (identik) dengan lambung sederhana (simple stomach) pada hewan karnivora, yaitu dilapisi oleh mukosa kelenjar (glandular mucosa) penghasil mukus, asam klorida (HCl), dan enzim pencernaan seperti pepsinogen.
Variasi Tambahan Lambung

Kuda
Lambung kuda tersusun atas regio mukosa non-kelenjar di bagian proksimal dan mukosa lambung kelenjar di bagian aboral.
- Margo Plicatus: batas pemisah anatomis yang tegas antara kedua regio mukosa ini disebut sebagai margo plicatus.
- Histologi: Mukosa non-kelenjar dilapisi oleh epitel berlapis gepeng (stratified squamous epithelium), sedangkan bagian kelenjar secara fungsional dan histologis analog dengan lambung pada karnivora.
Babi
Pada babi, regio lambung yang berada tepat di sebelah aboral dari sfingter esofagus merupakan segmen mukosa non-kelenjar yang berbatas tegas, yaitu pars esophagea.
- Pars esophagea dilapisi oleh epitel berlapis gepeng.
- Seluruh mukosa lambung selebihnya merupakan mukosa kelenjar yang analog dengan lambung karnivora.
Unta dan Kerabatnya (Unta, Llama, Alpaka)
Lambung pada kelompok camelid terbagi menjadi tiga kompartemen: kompartemen 1 (C1), kompartemen 2 (C2), dan kompartemen 3 (C3).
- Kompartemen 1 (C1): analog dengan rumen pada ruminansia sejati, berfungsi sebagai kompartemen fermentasi utama. C1 juga memiliki banyak kantung keluar kecil yang disebut sakura (saccules).
- Kompartemen 2 (C2): tersusun dari kombinasi antara mukosa kelenjar dan epitel berlapis gepeng non-kelenjar.
- Kompartemen 3 (C3): secara fungsional dan histologis analog dengan abomasum pada ruminansia serta lambung anjing, yakni sepenuhnya merupakan mukosa kelenjar (entirely glandular).
Unggas / Ayam
Lambung unggas terdiri dari dua organ berurutan yang berbeda:
- Proventrikulus (Proventriculus / Lambung Kelenjar)
- Proventrikulus merupakan lambung kelenjar yang secara fungsional, namun tidak secara struktural, analog dengan lambung mamalia.
- Di organ ini terjadi sekresi asam klorida (HCl) dan pepsinogen ke dalam lumen untuk memulai pencernaan kimiawi.
- Ventrikulus (Ventriculus / Ampela / Gizzard / Lambung Otot)
- Ventrikulus merupakan organ berotot tebal yang berfungsi untuk menggiling dan memecah makanan secara mekanis.
- Mukosa ventrikulus dilapisi oleh lapisan tebal protein khusus yang disebut koilin.
- Koilin membentuk lapisan pelindung yang liat di atas permukaan mukosa untuk mencegah kerusakan dinding akibat gesekan partikel pakan yang kasar dan kerikil (grit).
- Koilin diproduksi oleh kelenjar-kelenjar tubular ampela, yang strukturnya saling mengunci (interdigitate) dengan lapisan koilin untuk memberikan integritas struktural yang kuat.
Usus Halus (Small Intestine)
Peran fungsional utama usus halus adalah pencernaan enzimatik dan penyerapan nutrisi, air, dan elektrolit. Untuk memaksimalkan fungsi ini, usus halus memiliki adaptasi struktural khusus guna meningkatkan luas permukaan penyerapan secara masif, meliputi:
- Plicae circulares (lipatan usus): lipatan mukosa dan submukosa yang melingkar.
- Vili: tonjolan kapiler ke arah lumen.
- Mukrovili: tonjolan mikroskopis pada membran apikal enterosit (brush border).
Mukosa usus halus dicirikan oleh banyaknya tonjolan papiler luminal yang terdistribusi secara teratur, yang disebut vili. Vili dilapisi oleh sel epitel kolumnar, yaitu enterosit (enterocytes).

Populasi Sel Epitel Usus Halus
- Enterosit: sel epitel kolumnar yang berfungsi utama dalam pencernaan dan penyerapan. Permukaan apikal memiliki mikrovili (brush border) yang dilapisi glikokalins kaya enzim pencernaan, yang memperluas area kontrak dengan ingesta.
- Sel Goblet: sel epitel berbentuk piala yang terselip di antara enterosit. Sel ini memiliki sitoplasma apikal yang pucat/sukar menyerap warna karena dipenuhi musin, yang berfungsi melumasi lumen dan melindungi mukosa usus. Jumlah sel goblet secara progresif meningkat dari duodenum menuju ileum.
- Kripta Lieberkuhn (Crypts of Lieberkuhn): invaginasi tubular epitel di dasar vili. Kripta ini merupakan kompartemen regeneratif tempat sel-sel induk (stem cells) membelah dan bermigrasi ke atas untuk memperbarui populasi sel vili secara konstan.
- Sel Paneth: pada beberapa spesies (seperti kuda dan ruminansia), dasar kripta Lieberkuhn mengandung sel Paneth, yaitu sel dengan granula sitoplasma eosinofilik (merah terang) melimpah yang memproduksi peptida antimikroba (seperti defensin dan lisozim) untuk mengontrol flora mikroba usus.
Stroma dan Lamina Propria Vili
- Inti Vili (Villous Core): Lamina propria membentuk inti dari setiap virus. Jaringan ikat longgar ini kaya akan kapiler darah untuk menyerap asam amino dan monosakarida.
- Lakteal (Lacteal): di bagian tengah setiap vilus terdapat kapiler limfatik untuk yang disebut lakteal. Lakteal berfungsi khusus menyerap lipid dan kilomikron yang telah diproses oleh enterosit.
- Sel Imun Mukosa: Lamina propria usus halus juga mengandung populasi sel imun, termasuk limfosit, sel plasma, makrofag, serta sejumlah limfosit intraepitelial yang tersebar di antara sel enterosit.
Ciri Mikroskopis Khusus Segmen Usus Halus
Meskipun gambaran histologis umum berlaku untuk ketiga segmen, terdapat ciri mikroskopis khas pembeda:
Duodenum
- Pilorus lambung bermuara langsung ke dalam lumen duodenum.
- Kelenjar Brunner: ciri khas utama duodenum adalah keberadaan kelenjar tubuloasinar submukosa yang ekstensif pada lapisan submukosanya. Kelenjar ini dilapisi epitel kolumnar tinggi kaya musin dan bermuara ke dalam dasar kripta lieberkhuhn. Sekret kelenjar Brunner bersifat alkalis, berfungsi menetralkan kimus asam (acidic digesta) yang datang dari lambung.
- Duktus pankreatikus dan duktus biliaris komunis menembus dinding duodenum untuk mengalirkan enzim pencernaan dan empedu ke lumen duodenum.
Jejunum
- Merupakan segmen terpanjang dari usus halus.
- Memiliki vili yang berkembang sangat baik, panjang dan ramping dengan rasio voli-terhadap-kripta yang tinggi untuk memaksimalkan absorpsi nutrisi.
- Tidak memiliki kelenjar Brunner submukosa (seperti duodenum) dan tidak memiliki agregat folikel limfoid masif (seperti ileum).
Ileum
- Plak Payer (Payer’s Patches): ciri pembeda utama ileum adalah banyaknya jaringan limfoid terorganisasi berupa agregat folikel limfoid besar pada mukosa dan submukosanya.
- Plak Peyer berfungsi sebagai organ limfoid primer dan sekunder, serta merupakan komponen krusial dari jaringan limfoid terkait saluran cerna (Gastrointestinal-Associated Lymphoid Tissue/ GALT) untuk memantau antigen lumen usus.
Sekum dan Usus Besar
Fungsi utama sekum dan usus besar (kolon) adalah penyerapan air dan elektrolit, serta penyimpanan sisa feses sebelum defekasi. Pada beberapa spesies (terutama herbivora non-ruminansia seperti kuda, kelinci, dan beberapa pengerat), sekum dan kolon asendens juga merupakan kompartemen fermentasi mikroba (hindgut fermentation) yang sangat vital untuk menguraikan selulosa menjadi asam lemak terbang (volatile fatty acids / VFA).
Karakteristik Histologi Mukosa Usus Besar
Struktur histologi usus besar memiliki perbedaan utama yang mencolok jika dibandigkan dengan usus halus:
- Ketiadaan Vili: berbeda dengan usus halus, mukosa usus besar tidak memiliki vili. Permukaan luminalnya tampak relatif datar dan halus.
- Kripta Lieberkuhn Panjang dan Lurus: mukosa didominasi oleh kripta usus (internal glands / crypts of Lieberkuhn) yang tersusun rapat, panjang, lurus, dan berjalan paralel satu sama lain dari permukaan hingga ke muskularis mukosa.
- Kelimpahan Sel Goblet: populasi sel goblet pada kripta dan epitel luminal usus besar jauh lebih melimpah dibandingkan dengan segmen saluran pencernaan sebelumnya. Mukus yang disekresikan oleh sel-sel goblet ini sangat krusial untuk melumasi dinding lumen saat massa feses mengalami dehidrasi dan pemadatan, sehingga mencegah terjadinya abrasi mekanis pada mukosa.
- Absorptosit / Kolonosit: epitel permukaan dan leher kripta terdiri dari sel-sel epitel kolumnar dengan mikrovili pendek pada permukaan apikalnya yang bertugas menyerap air dan natrium.
- Ketiadaan Sel Paneth: pada sebagian besar hewan domestik, sel Paneth tidak dijumpai di dasar kripta usus besar.
Organisasi Dinding Lainnya
- Lamina Propria: terletak di antara kripta-kripta usus, kaya akan kapiler darah, pembuluh limfatik, serta modulus limfoid soliter atau agregat limfoid mukosa (GALT) untuk pertahanan terhadap flora mikroba usus besar yang sangat padat.
- Muskularis mukosa: lapisan tipis otot polos yang berbatas tegas memisahkan mukosa dari submukosa.
- Submukosa: jaringan ikat longgar yang memuat pembuluh darah dan pleksus saraf submukosa (Meissner).
- Tunika Muskularis:
- Pada karnivora (anjing dan kucing), lapisan otot tersusun atas lapisan sirkuler dalam dan longitudinal luar yang relatif seragam.
- Pada spesies tertentu seperti kuda dan babi, lapisan longitudinal luar tunika muskularis menebal di beberapa tempat membentuk pita-pita otot longitudinal yang disebut taenia (taeniae coli atau taeniae ceci). Kontraksi tonik dari taenia ini membentuk kantung-kantung atau haustra yang memperlambat laju ingesta untuk fermentasi.
- Serosa / Adventisia: Kolon intraperitoneal dibungkus oleh membran serosa (mesotel dan jaringan ikat subserosa).
Jennings, R., & Premanandan, C. (2017). Cecum and large intestine. Dalam Veterinary histology. The Ohio State University







Leave a Reply